Noe_uka's Blog

Just another WordPress.com site

HUBUNGAN FILSAFAT PENDIDIKAN DENGAN PENINGKATAN SUMBER DAYA MANUSIA

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT,yang telah memberikan limpahan rahmat dan inayahnya dan telah menunjukan kita ke atas jalan yang rurus.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW,kepada keluarganya,sahabatnya dan para tabiin beliaw yang telah menjalankansyariat sampai akhir jaman (Amin)
Pada kesempatan yang berbahagia ini kami menyampaikan terima kasih kepada bapak dosen mata kuliah “Flisafat Pendidikan” ,yang telah memberikan kepercayaan kepada kami (kelompok VI) untuk Menyusun Makalah ini dengan Judul “hubungan Filsafat pendidikan dengan peningkatan sumber daya manusia”
Selanjutnya sebagai salah satu karya sastratentunya “tak ada gading yang tak retak” Oleh karena itu saran dan keritik yang bersikap edukatif dari bpk dosen khususnya serta dari para pembaca Umumnya sangatkami harapkan demi untuk perbaikan serta penyempurnaan.
Akhirnya hanya Kepada Allah SWT. Kita serahkan segala urusan, kami senantiasa berharap semoga makalah ini bermanfaat, khususnya bagi kami umumnya bagi para pembaca
Amin yaa robbal alamin
Wassalamuallaikum Wr.Wb
Pandeglang,30 Mei 2010
Penyusun

(Kelompok VI)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
BAB I :Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah :……………………..0
B. PembatasanMasalah :……………………..0
C. Perumusan Masalah :……………………..0
D. Tujuan Pembahasan :……………………..0

BAB II :Hubungan Filsafat Pendidikan Dengan Peningkatan Sumber Daya Manusia”
A. Aliran Empirisme :…………………….0
B. Nativisme dan Naturalisme :…………………….0
C. Teori Konvergensi :…………………….0
Bab III : Penutup
A. Kesimpulan :…………………….0
B. Saran-Saran :…………………….0
Daftar Pustaka

BAB I
A. Latar Belakang Masalah
Untuk mencerdaskan dan memajukan kehidupan suatu bangsa dan negara sesuai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan maka di adakan suatu proses pendidikan atau suatu prosen belajar yang akan memberikanpengertian,pandangan,dan penyesuayan bagi seseorang atau si terdidik kearah kedewasaan dan kematangan,dengan proses ini maka akan terpengaruh terhadap perkembangan jiwa seseorang anak didik atau peserta dan atau subjekdidik kearah yang lebih dinamis baik kearah bakat atau pengalaman,moral, intelektual maupun fisik (jasmani) menuju kedewasaan dan kematangan tadi.tujuan akhir pendidikan akan terwujud untuk menumbuhkan dan mengembangkan semua potensi si terdidik secara teratur,apa bila prakondisi alamiah dan sosialmanusia memungkinkan, seperti: iklim,makanan, kesehatan, keamanan dan lain sebagainya yang relatif sesuai dengan kebutuhan manusia
Untuk memberikan makna yang lebih jelas dan tegas tentang kedewasaan dan kematangan yang ingin di tuju dalam pendidikan apakah kedewasaan yang bersifat biologis,pisikologis,dan sosiologis, maka masalah ini merupakan bidang garapan yang akan dirumuskan oleh filsafat pendidikan.
Disamping itu juga dari pengalaman menunjukan bahwa tidaksemua manusia baik potensiro jasmaninya maupun potensi haninya (pikir,karsa, dan rasa) berkembang sebagai mana yang diharapkan. Oleh karena itu lahirlahpemikiran manusia untuk memberikan afternatif pemecahan masalah terhadap perkembangan manusia.
Apakah yang mempengaruhi perkembangan potensi manusia, dan mana yang paling menentukan dan dengan adanya lembaga-lembagapendidikan dengan berbagai aktivitasnya telah mampu menumbuhkandan mengembangkan potensi peserta didik sehingga bermanfaat bagikehidupan peribadi dan masyarakat sekitar
Dari urayan tadi jelaslah bahwa pendidikan adalah sebagaipelaksanaan dari ide-ide filsapat. Atau dengan perkataan lain bahwa ide filsafat telah memberikan asas sistem nilai dan atou normatif bagi peranan pendidikan yang telahmelahirkan, lembaga-lembaga pendidikan dan dengan segala aktivitasnya, sehingga dapat dikatakan bahwa filsafatpendidikan sebagai jiwa, pendoman, dan sumber pendorong adanya pendidikan. Inilah antara lain peranan filsafat pendidikan.

B. Perumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan filsafat pendidikan
2. Bagai mana aliran-alira empirisme, Nativisme, naturalisme dan teori konvergensi.
3. bagai mana hubunga filsapat pendidikan dengan peningkatan sumberdaya manusia

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui maksud dari filsafat pendidikan
2. Untuk mengetahui dari pandangan aliran empirisme, Nativisme, naturalisme dan teori konvergensi.
3. Untuk mengetahuiHubungan Filsafat Pendidikan Dengan Peningkatan Sumber Daya Manusia”

D. Pembatasan Masalah
Agar lebih fokus dan efisien maka akan dibatasi permasalahan yang meliputi: Pandangan aliran empirisme, Nativisme, naturalisme dan teori konvergensi.

BAB II
HUBUNGAN FILSAFAT PENDIDIKAN DENGAN PENINGKATAN SUMBER DAYA MANUSIA
A. Aliran Empirisme
Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu “empiris” yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu empirisme dinisbatkan kepada faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Pada dasarnya Empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari ratio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. sebaliknya Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna.

Seorang yang beraliran Empirisme biasanya berpendirian bahwa pengetahuan didapat melalui penampungan yang secara pasip menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan betapapun rumitnya dapat dilacak kembali dan apa yang tidak dapat bukanlah ilmu pengetahuan. Empirisme radikal berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai kepada pengalaman inderawi dan apa yang tidak dapat dilacak bukan pengetahuan. Lebih lanjut penganut Empirisme mengatakan bahwa pengalaman tidak lain akibat suatu objek yang merangsang alat-alat inderawi, kemudian di dalam otal dipahami dan akibat dari rangsangan tersebut dibentuklah tanggapan-tanggapan mengenai objek yang telah merangsang alat-alat inderawi,tersebut.
Empirisme memegang peranan yang amat penting bagi pengetahuan, malah barangkali merupakan satu-satunya sumber dan dasar ilmu pengetahuan menurut penganut Empirisme. Pengalaman inderawi sering dianggap sebagai pengadilan yang tertinggi.

B. Nativisme dan Naturalisme
Nativisme berasal dari kata Nativus yang berarti kelahiran. Tokoh aliran ini adalah Arthur Schopenhauer (1788-1860) seorang filosof jerman, yang berpendapat bahwa hasil pendidikan dan perkembangan manusia itu ditentukan oleh pembawaan yang diperolehnya sejak anak itu dilahirkan. Anak dilahirkan kedunia sudah mempunyai pembawaan dari orang tua maupun disekelilingnya, dan pembawaan itulah yang menentukan perkembangan dan hasil pendidikan. Lingkungan, termaksud tidak upaya tidak mempengaruhi perkembangan anak didik. Apabila seorang anak berbakat jahat, maka ia akan menjadi jahat, begitu pula sebaliknya. Karena dalam aliran ini dikenal dengan istilah pessimisme paedagogis, karena sangat pesimis terhadap upaya-upaya dan hasil pendidikan.
Natur artinya alam, atau apa yang dibawa sejak lahir. Aliran ini sama dengan aliran nativisme. Naturalisme yang dipelopori oleh Jean Jaquest Rousseau, bependapat bahwa pada hakekatnya semua anak manusia adalah baik pada waktu dilahirkan yaitu dari sejak tangan sang pencipta. Tetapi akhirnya rusak sewaktu berada ditangan manusia, oleh karena Jean Jaquest Rousseau menciptakan konsep pendidikan alam, artinya anak hendaklah dibiarkan tumbuh dan berkembang sendiri menurut alamnya, manusia jangan banyak mencampurinya.
Jean Jaquest Rousseau juga berpendapat bahwa jika anak melakukan pelanggaran terhadap norma-norma, hendaklah orang tua atau pendidik tidak perlu untuk memberikan hukuman, biarlah lam yang menghukumnya. Jika seorang anak bermain pisau, atau bermain api kemudian terbakar atau tersayat tangannya, atau bermain air kemudian ia gatal-gatal atau masuk angin. Ini adalah bentuk hukuman alam. Biarlah anak itu merasakan sendiri akibatnya yang sewajarnya dari perbuatannya itu yang nantinya menjadi insaf dengan sendirinya.

C. Teori Konvergensi
Tokoh aliran ini aliran ini adalah William Stern (1871-1938), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan kedunia ini sudah disertai pembawaah baik maupun pembawaan buruk. Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu anak dilahirkan tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang baik sesuai dengan perkembangan bakat itu.Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak dapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu. Sebagai contoh, hakikat kemampuan anak berbahasa dengan kata-kata, adalah juga hasil dari konvergensi. Pada akan manusia ada pembawaan untuk berbicara melalui situasi lingkungannya, anak berbicara dalam bahasa tertentu. Lingkungan pun mempengaruhi anak didik dalam mengembangkan pembawaan bahasanya. Karena itu setiap anak manusia mula-mula menggunakan bahasa lingkungannya. Missal bahasa jawa, sunda, bahasa inggris, bahasa jerman dan lain sebaginya. Kemampuan dua orang anak (yang tinggal dalam lingkungan yang sama ) untuk mempelajari bahasa mungkin tidak sama. Itu disebabkan oleh factor kualitas pembawaan dan perbedaan situasi lingkungan, biar pun lingkungan kedua anak tersebut menggunakan bahasa yang sama. Willianm Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantug pada pembawan dan lingkungan, seakan-akan dua garis yang menuju kesatu titik pertemuan sebagai berikut Keterangan :
a. pembawaan
b. lingkungan
c. hasil pendidikan/ perkembngan

Karena itu teori W. Stern disebut teori konvergensi ( konvergen artinya memusat kesatu titik). Jadi menurut teori konvergensi :
1) Pendidikan mungkin dilaksanakan.
2) Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anaka didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik.
3) Yang membatasi hasil pendidika adalah pembawaan dan lingkungan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Merupakan terapan dari filsafat umum, maka selama membahas filsafat pendidikan akan berangkat dari filsafat.
Filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai.

Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab/aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran, sekurang-kurnagnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri.
Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar, yaitu
a. Filsafat pendidikan “progresif”
Didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau
b. Filsafat pendidikan “ Konservatif”.
Didasari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius. Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme, perenialisme,dan sebagainya.
Tidak ada satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar. Sebagai ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh muslim, maka sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan kemajuan.
Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia :
1) Menyadarkan secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam kehidupannya.
2) Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya.
3) Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya
Menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya
Setelah mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai sumber sekunder. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.
B. Saran-Saran
Adapun saran yang ingin kami sampaikan, antara lain :
1. Teruslah menuntut ilmu, baik ilmu agama atau ilmu pengetahuan agar dapat memajukan agama islam serta tidak ketinggalan dengan situwasi jaman sekarang
2. Lebih memperdalam dan mencari sumberlain tentang isi makalah kami ini dengan judul “hubunmgan filsafat pendidikan dengan sumberdaya manusia”

DAFTAR PUSTAKA

Abu Hanifah, Dr”Rintisan filsafat I” Balai pustaka.jakarta,1950
Ahmad Hanafi, MA “Pengantar filsafat Islam” Bulan Bintang. Jakarta,1990
Prasetya,Drs.”Filsafat Pendidikan” Pustaka Setia, Bandung, 1997

Juni 9, 2010 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.